Sabtu, 01 Juni 2013

Mengapa Reformasi?

Istilah reforrmasi semakin marak diucapkan di Indonesia –khususnya oleh para aktivis. Semenjak tumbangnya pemerintahan Soeharto atau rezim orde baru. Ada literature yang mengatakan bahwa reformasi mulai populer semenjak pergolakan keagamaan kristen yang hendak terpecah dari kristen katolik menjadi Kristen protestan pada abad 16. Terlepas dari itu semua, inti dari ajaran reformasi adalah perubahan, pembaharuan, perombakan dari satu system yang sudah buruk, menjadi system yang lebih baik. Atau dari kekuasaan yang abous of power menjadi kekuasaan yang lebih berpihak kepada rakyat.

Reformasi Indonesia

Jika kita melihat secara kasat mata, Indonesia adalah Negara yang selalu melakukan reformasi dalam tubuhnya. Mulai dari masa penjajahan, angkatan muda Soekarno dan kawan-kawan mampu mereformasi Indonesia menjadi Negara yang merdeka. Hingga memunculkan pemerintahan yang disebut orde lama. Setelah orde lama dianggap tidak mengutamakan lagi kepentingan rakyat, maka bangsa Indonesia kembali melakukan reformasi untuk menumbangkan orde lama, hingga berdirilah orde baru pimpinan jendral Soeharto. Hampir sama dengan Soekarno, Soeharto pun di kudeta oleh para mahasiswa yang mengepung gedung DPR di tahun 1998. Munculah sebuah era yang disebut dengan era reformasi. Terkadang saya pribadi tidak mengerti, mengapa era setelah tumbangnya Soeharto dinamanakan dengan era reformasi. Padahal, tumbangnya Soeharto bukanlah berarti bahwa reformasi telah di mulai.
Itu semua perubahan. Itu semua reformasi. Namun sayang, reformasi yang terjadi di Indonesia, bukanlah reformasi yang didasarkan oleh keinginan masyarakat. Namun reformasi yang terjadi di Indonesia adalah  reformasi hasil dari politik konspirasi dunia. Kita bangsa Indonesia, hanya dijadikan buah catur yang siap diarahkan kemana saja.

Soekarno merupakan orang yang sangat menentang Amerika, hubungannya lebih dekat dengan rusia. Ini terbukti dengan diakhir masa jabatnya, hubungan Soekarno dengan komunis semakin erat. Amerika sangat gerah karena ia tidak bisa melakukan interaksi ekonomi dengan Indonesia yang dinilai sebagai Negara yang sangat berpotensi. Dengan kecedasan dan kekuasaannya, kemudian Amerika melakukan kong kalikong dengan para pejabat tinggi dan terutama para millter Indonesia agar ditumbangkkannya pemerintahan Soekarno. Dijadikannya mahasiswa sebagai alat. Isu-isu ditebarkan. Kemudian mahasiswa pun bergolak, menggempur kekuasaan Soekarno, hingga Soekarno mampu dikudeta.

Ini semua adalah permainan politik yang cantik dari Jendral Soeharto yang pada waktu itu menjadi antek-antek Amerika dan Negara-negara super power lainnya. Ini bisa dibuktikan. ketika Soeharto menjabat sebagai presiden, pada tahun 1967 ia mengadakan rapat besar-besaran di jeneva, Swis. Dimana dalam rapat itulah seluruh kekayaan Indonesia mulai di perdagangkan kepada Negara-negara lain dengan dalih infestasi. Inilah awal mula korporat asing masuk di Indonesia. Dan menjarah seluruh kekayaan alam Indonsesia.
Pada tahun 1998, Soeharto rupanya telah sadar akan tindakannya yang telah menjual aset-aset Indonesia dan membuat rakyat Indonesia sengsara. Pada tahun inilah ia hendak menasionalisasikan seluruh perusahaan milik asing menjadi milik Indonesia, termasuk Freeport yang kontraknya telah selesai. Namun niat baik Soeharto ini rupanya telah diketahui oleh Negara super power, Amerika khususnya. Akhirnya dengan politik konspirasi, para anggota dewan disuap, mahasiswa-mahasiswa diperalat dengan dikompori oleh isu-isu yang mereka (Amerika dkk) buat. Sehingga turunlah kembali Soeharto, dan kekayaan alam Indonesia masih digenggam asing. Begitu seterusnya sampai pemerintahan sekarang. Semuanya di penuhi dengan intrik-intrik politik konspirasi asing. Indonesia hanya manjadi boneka mainan belaka.
Dengan demikian, jelaslah sudah bahwa Reformasi yang terjadi di Indonesia tak lebih hanya konspirasi besar dunia. Bukan kesadaran murni dari rakyatnya.

Mengapa Reformasi ?

Sebab kita belum benar-benar melakukan reformasi, bahkan dimulai pun belum. Indonesia masih dalam kerangkeng yang membuatnya semakin lemah dan terpuruk.
Para pemimpin kita sekarang tidak mempunyai visi yang kuat untuk membebaskan kita dari keterpurukan, bahkan kita sering dijadikan sebagai alat untuk memperkaya dirinya sendiri. Mereka seharusnya sudah di pulangkan ke kampungnya masing-masing.
Kitalah, generasi yang tidak hanya mempunyai kecerdasan intelektuil, namun juga kecerdasan emosional dan spiritual yang harus mulai bergerak. Negara kita butuh orang-orang yang sadar akan nilai-nilai nasionalisme dan humanisme.
Sekarang, bukan saatnya lagi kita tersekat-sekat oleh agama, ormas, atau kotak-kotak lain yang menyempitkan gerak kita. Sekarang waktunya berhimpun, menyatukan visi untuk membangunkan Indonesia yang mati suri.
Penulis adalah pengasuh Rumah Baca Damar26

Mahasiswa Jinayah Siyasah Semester 4.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar