Kamis, 19 Desember 2013

TANPA JUDUL


senja terasa begitu muram
kucing hitam mulai berkeliaran
di tengah tanah yang lapang
aku terhujam sendirian
menanti entah siapa yang datang

ah...

Cilegon, 2013

KETIKA HARI MENDADAK KELABU

(Kepada adikku Sintia dan Anistia)

Sebelum waktu menyulitkan kita
sekedar bertemu dan bersipandang
Atau memakan mie instan di warung pojok
belakang rumah
Sebelum kau bergegas meninggalkan
kesempatan dan rencana yang menggantung
dalam pembicaraan
Ijinkan aku menitipkan pesan yang
lahir dari rahim kegellisahan panjang
Dari batin abangmu yang sakit;

Dik, abang ingin kau hentikan rengekanmu
Pastikan air mata yang turun dari sudut matamu kemarin sore
adalah air mata terakhir untuk melepas masa bocahmu

Dik, semakin hari dunia menjadi riuh gaduh
Tak jelas kemana lagi manusia berpijak
Seakan selesai dengan perbincangan tentang meja makan
dan ranjang
Maka suaramu harus berbeda, dik


Kau harus mulai angkat bicara tentang buruhburuh
yang dihantam batinnnya saban hari
atau tentang kampung kita yang dikepung kegelisahan jaman
bicaralah tentang itu
dengan puisi atau dengan apa pun yang kau bisa


dik, kelak abang tak ingin melihatmu
menjadi bagian yang tak terhitung
maka mulai dari hari ini;

keraskanlah hidupmu.

Dik, tubuh kita akan berai

namun suara kita harus tetap menggumpal
mengancam ketidak adilan





ingatlah ini
Dari abangmu, yang gelisah.

Cilegon, 2013

Jumat, 07 Juni 2013

Rumah Baca Damar26 Memilih ‘Mandiri’

Rumah Baca Damar26  ketika masih di rumah pribadi Ayatulloh  Marsai
Sekitar satu tahun yang lalu, saya, Ayatulloh Marsai (pak Ayat), beserta kawan-kawan yang lain menggagas sebuah rumah baca yang kami beri nama ‘Rumah Baca Damar26’. Sebetulnya keinginan itu sudah lama mengendap dalam kepala pak Ayat, bahkan lama sekali semenjak ia lulus kuliah dari IAIN Sunan Gunung Jati –sekarang UIN—Bandung sekitar 13 tahun silam. Karena beliau belum juga menemukan kawan-kawan yang satu misi, maka keinginan itu pun sempat terkubur.

Akhirnya pada tanggal 17 Agustus 2012, secara primordial kami nyatakan bahwa rumah Baca kami telah berdiri. Awalnya kami menggunakan rumah pribadi pak Ayat sebagai skretariatan, berikut juga dengan koleksi buku-buku milik beliau. Rumah pak ayat terhitung kurang strategis untuk sebuah tempat membaca, sehingga tidak banyak orang-orang yang datang untuk membaca atau meminjam buku. Atas dasar itulah, kami memutuskan untuk mencari tempat yang baru. Alhamdulillah, tidak membutuhkan waktu yang lama pak Ayat sudah menemukan tempat yang strategis, tepatnya di lingkungan Pasar Bunder kecamatan purwakarta. Dengan harga sewa yang juga sangat strategis. Pak ayat pun langsung menyewa tempat tersebut selama 5 tahun dengan harga 12.000.000,-. Dan biaya itu murni dari kantong pribadi pak Ayat. Yah, itu uang pribadi beliau.

Mengapa Rumah Baca?

Kebetulan, saya dan kawan-kawan yang ikut serta mendirikan Rumah Baca ini adalah murid-murid pak Ayat. Beliau berhasil menanamkan cinta baca kepada kami ketika kami duduk di bangku SLTA. Kecintaan itu terus berlanjut hingga kami duduk di bangku kuliah. Sehingga, kami bisa merasakan kehawatiran yang sama dengan apa yang di hawatirkan pak Ayat. Yakni, rendahnya minat baca masyarakat juga rendahnya perhatian pemerintah terhadap peningkatan sumber daya manusia.
Damar26 ditempat yang baru. link. pasar bunder
Kami yakin, bahwa sebuah perdaban yang maju selalu dimulai dengan peningkatan sumber daya manusia. Dengan cara terus mensosialisasikan pentingnya dunia literasi. Membaca, menulis, berdiskusi adalah sebuah kepastian yang harus dilakukan jika kita menginginkan negeri kita ini tidak menjadi negeri terbelakang terus menerus.
Memang, bukannya tidak ada rumah baca atau taman baca disekitar lingkungan kami. Hanya saja, kami menilai taman baca tersebut tidak memberikan perhatian lebih kepada masyarakat. Motifasi terbentuknya juga kami kira tidak lebih hanya sekedar penebus dosa atas program-program pemerintah. Sedangkan swadaya untuk masyarakat sangatlah kurang. Biasanya mereka hanya mengadakan kegiatan ketika ada blok green (dana segar) dari pemerintah. Miris.

Konvensional atau mandiri?

Setelah beberapa bulan berjalan. Kami mulai merasa kebingungan tentang bagaimana arah rumah baca kami selanjutnya. Saya pribadi pernah didatangi oleh salah satu pegawai pemerintahan daerah. Dia mengingatkan saya agar tidak usahlah membuat rumah baca baru. Kemudian dia meminta saya untuk mengurusi Taman Baca Masyarakatnya (TBM) yang berada pada naungan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM). TBM model begini adalah TBM konvensional. Artinya, semua yang dijalankannya harus sesuai dengan aturan pemerintah, mendapat subsidi dari pemerintah, dan semua-mua terkait dengan pemerintah tak ketinggalan pula wajib dan kudu pro pemerintahan.
foto bersama: relawan rumah baca Damar26
Rumah baca kami pun sempat dibuat bingung. Apakah rumah baca ini akan dibuat atau dijalankan apa adanya (Mandiri). Apakah kemudian kami harus meresmikan rumah baca ini dengan mendaftarkanya ke pihak dinas yang akan melalui birokrasi-birokrasi yang menjejngkelkan. Dan memenuhi aturan-aturan yang kadang sangat merepotkan.
Petunjuk terang kemudian datang dari buku Gempa Literas karya Gol A Gong dan Agus M Irkham. Dalam salah satu tulisannya mengenai TBM, Gol A Gong menawarkan dua madzhab mengenai TBM. Yaitu madzhab konvensional dan madzhab mandiri. Mas Gong menjelaskan, bahwa TBM bermadzhab konvensional harus menempuh aturan-aturan yang telah ditetapkan pemerintah. Kelebihannya, selain terlegalkan, juga akan mendapat bantuan berupa dana-dana dari pemerintah. Namun, kita tidak akan bebas mengkritisi jika terjadi kesewenang-wenangan yang dilakukan oleh pemerintah. Sedangkan, idelanya TBM ialah menjadi basis pergerakan sosial, apa pun itu bentuknya.
Lain halnya dengan TBM bermadzhab mandiri. Meski dengan buku seadanya, fasilitas seadanya, tidak ada subsidi apa pun darri pemerintah, namun justru itu yang akan membuat kita terbebas dari belenggu-belenggu yang membuat kita tidak bebas melakukan revolusi sosial.
Saya selalu ingat apa yang dikatakan pak Ayat selaku presiden rumah baca kami, bahwasnya rumah baca kita ini adalah dapur  yang akan mengolah para pemuda khususnya, agar menjadi pemuda yang mampu membuat perubahan, agar mampu membangkitkan bangsa kita yang semakin hari semakin terseok-seok.
Maka, kami sepakat bahwa rumah baca kami, Rumah Baca Damar26, akan memilih madzhab mandiri.


Penulis adalah relawan rumah baca Damar26

Sabtu, 01 Juni 2013

Damar26, Membangun Dunia Literasi

Matahari sudah hampir tenggelam di ufuk barat, warna jingga merengkuh mega-mega.
Ditemani kopi, buku, dan koran-koran yang berserakan, sekelompok orang yang mengaku tergabung dalam Komunitas Gemar Membaca Damar26 ini, terlihat sedang asik berdiskusi. Beberapa orang terlihat sedang mengkliping koran-koran harian. Meskipun hari sudah semakin sore, namun wajah-wajah mereka terlihat masih cerah dan bersemangat.
Berawal dari rasa cinta terhadap ilmu pengetahuan, Ayatulloh Marsai dan kawan-kawan, bertekad untuk membuat sebuah komunitas yang mempunyai giroh untuk membudayakan dunia literasi.
“Mulanya hoby, dan rasa cinta terhadap membaca, kemudian merasa mubadzir dengan buku-buku yang hanya numpuk di kardus-kardus dan lemari, maka saya berinisiatif untuk membentuk rumah baca atau sejenisnya, paling tidak supaya buku-buku dirumah saya ada yang memanfaatkan,” ucap Ayatulloh Marsai, selaku penggagas lahirnya komunitas ini.
Meskipun namanya komunitas membaca, namun pada prakteknya Damar26 tidak hanya sekedar baca-baca saja. Lebih dari itu, Damar26 mempunyai agenda-agenda yang berkaitan dengan dunia literasi, seperi menulis dan berdiskusi. Setiap sabtu sore, mereka ngumpul untuk saling berbagi informasi, membahas isu-isu hangat di media masa, dan kemudian berlomba menuliskan opini untuk dimuat di media cetak.
Komunitas yang bertempat di linkungan Dukumalang, kecamatan purwakarta ini, sangat terbuka kepada siapapun yang ingin bergabung dan menjadi anggota, “Damar 26  tidak menutup diri, siapa pun boleh bergabung dan belajar bersama-sama, baik itu pelajar, mahasiswa, karyawan, atau yang lainya,” lanjut Ayatulloh.
 “Alasan saya mengikuti komunitas ini ialah, paling tidak saya bisa menjaga semangat belajar saya, apalagi saya sekarang sudah tidak lagi belajar dilembaga formal, inisiatifnya, yah saya ngumpul bareng orang-orang yang maniak belajar ini,” ujar Maman, salah satu pendiri komunitas ini.

Kedepan, Damar26 berharap agar lebih banyak lagi orang yang mau bergabung dan belajar bersama.


 

Dosen Rangkap Jabatan

Ketika Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) terpilih kembali menjadi ketua umum partai demokrat, kredibilitasnya untuk mengurusi Negara semakin diragukan. Mampukah SBY focus mengurusi Negara dan partainya, ataukah tidak. Disisi yang lain, masyarakat sudah semakin yakin bahwa selama ini SBY lebih mementingkan partainya ketimbang mengurusi Negara yang semakin carut marut.
Kini SBY telah beristri dua –atau bahkan lebih-. Layaknya seseorang yang berpoligami, ia dituntut untuk mampu berlaku adil kepada kedua istrinya, Indonesia dan Demokrat. Namun, seperti yang dikatakan Habiburrahman dalam novel fenomenalnya Ayat-ayat Cinta, satu istri saja belum tentu adil, apa lagi dua.
Sialnya, fenomena poligami jabatan ini juga dilakukan oleh para dosen, khususnya dosen dikampus saya. Entah itu jabatan di internal kampus sendiri atau pun jabatan yang lainnya diluar sana. Saya selaku mahasiswanya yang entah dijadikan isrti keberapa, tidak peduli dengan banyaknya istri yang dimiliki dosen saya tersebut. Yang terpenting adalah, hak saya sebagai mahasiswanya tidak boleh direduksi sedikitpun.
Antara Hak dan Kewajiban
Islam memang membolehkan poligami, akan tetapi dengan syarat yang tidak mudah. Syarat yang paling berat menurut saya ialah mampu berlaku adil. Adil, bisa kita artikan sebagai pekerjaan yang mampu memposisikan antara hak dan kewajiban.
Saya pribadi selaku mahasiswa tidak  menentang bagi dosen yang mempunyai jabatan atau pekerjaan lain, mungkin saja memang subsidi dari pemerintah untuk para tenaga pengajar termasuk dosen tidaklah cukup. Namun kiranya, dosen pun harus sadar akan kewajibannya sebagai tenaga pengajar yang kehadirannya dikelas sangat menentukan untuk perkembangan wawasan mahasiswa.
Saya pribadi sering menjadi korban dosen beristri dua seperti diatas, ketika sedang asik-asiknya berdiskusi tiba-tiba saja ponsel si dosen berbunyi, kemudian setelah itu dia seenaknya pergi dengan alasan sudah ditunggu rapat. Itu sering. Yang paling parah, ada juga dosen yang jarang sekali masuk, ketika dia mau masuk malah merubah jam seenaknya. Saya dan teman-teman yang lain yang tidak mungkin bisa masuk pada jam yang ia tentukan—karena juga punya istri lain—nilainya tidak dikeluarkan. Ini tidak adil.

Dalam hal ini, dosen seharusnya mampu bersikap tegas dan adil. Jika memang pekerjaannya sebagai dosen tidak mampu dijalaninya dengan baik, tersebab kerjaan yang lainnya, ia harus rela melepas jabatannya sebagai dosen. Jangan sampai mengorbankan mahasiswanya. Kita selaku mahasiswa, berhak mendapatakan pengajaran yang baik dari para dosen.

Dalam Dekapan Ukhwah: ‘Membangun Cinta Dengan Iman’

Saya teringat bagaimana pertama kali saya mengenal Ustadz Salim A. Fillah. Ketika itu ada acara bedah buku di kampus. Konon buku yang dibedah adalah buku Salim A. Fillah. Kawan-kawan satu organisasi sepertinya sangat mengenal nama itu, sedangkan saya yang mengaku pecinta buku malah merasa sangat asing dengan nama tersebut.
Saya pun hadir dalam acara bedah buku itu. Suasana begitu ramai, aula kampus yang terhitung sangat luas hampir penuh terisi orang. Didepan, sang penulis sendiri sudah hadir, berikut dengan pembedahnya, Langlang Randawa. Keduanya masih muda.
Acara pun dimulai. Sebagai pembuka, ustadz Salim mengajukan sebuah pertanyaan kepada audien. Namun, tak satu pun dari audien yang berani menjawab, entah apa alasannya. Iseng saja, saya acungkan tangan dan memberanikan diri menjawabnya. Saya tahu jawaban saya itu ngawur, dan jauh dari kata benar. Akan tetapi, ternya saya dipanggil oleh ustadz Salim untuk maju ke depan. Kemudian ia memberikan bukunya yang terbaru ‘Dalam DekapanUkhwah’ beserta tanda tangannya. Saya tidak mengira, bahwa buku itu akan menjadi buku yang menempati daftar nomor satu dalam buku yang saya suka.
Seperti Makan Gado-gado
Meminjam istilahnya Hernowo bahwasanya ada buku yang bergiji dan ada pula buku yang tidak bergiji. Bagi saya, buku yang bergiji itu ialah manakala kita merasa sangat kenyang—dalam arti kita merasa enak dan banyak pengetahuan baru—setelah kita membacanya. Begitulah yang saya rasakan ketika membca buku ustadz Salim. Baru membaca dua sampai  tiga halaman saja, saya merasa sangat ketagihan, dan ingin terus membacanya sampai akhir, sehingga hampir tiga kali saya menamatkan bukunya.
Gaya betuturnya yang halus dan unik saya kira membuat siapa pun akan dibuat jatuh cinta dalam gaya tulisannya. Saya katakan unik, karena dia mempunyai gaya khusus untuk menyampaikan ide atau gagasannya. Sebagai seorang ustadz, dia mempunyai trik untuk menyampaikan ajaran-ajaran islam agar bisa diterima oleh setiap orang. Biasanya dia berbicara sejarah, filsafat, hukum kemudian secara tepat dikaitkan dengan ajaran-ajaran islam yang bersumber dari Al-qur’an dan sunah. Inlah yang membuat saya kagum dengan beliau, dia tidak pernah menutup diri untuk membaca buku atau belajar mengenai apa pun. Pada akhirnya, semakin banyak kita belajar maka kita akan semakin bijaksana menyikapi sebuah permasalahan. Begitu kira-kira pandangannya.
Membangun Cinta Dengan Iman
Dalam bukunya yang berjudul “Dalam Dekapan Ukhwah”  ustadz Salim mencoba menguraikan tentang pentingnya iman dalam menjalin suatu hubungan dengan siapapun. Karena dengan imanlah seseorang mampu mengambil cinta dan kasih dari tuhan untuk ditebarkan kepada manusia yang lain. Dengan begitu, kita tidak akan merasa terluka walau bagaimanapun sikap sahabat kita terhadap kita. Karena cinta dan kasih tuhan sangatlah tulus dan tidak terbatas.
“Muslim yang satu adalah cermin bagi muslim yang lainnya” begitu kiranya ucap nabi besar kita. Seakan mengisyaratkan, bahwa setiap muslim di dunia ini harus saling mengikatkan diri dalam tali persaudaraan. Saat kita bercermin, ketika kita melihat keburukan pada diri kita, maka kita tahu yang harus kita benahi bukanlah bayang-bayang dalam cermin, atau bahkan kita menghancurkan cerminnya. Namun yang harus kita benahi tentulah diri kita sendiri. Kebanyakan dari kita, ketika kita merasa tidak nyaman berhubungan dengan orang lain, maka kita habis-habisan mengkritisi orang tersebut dengan segala keburukannya. Padahal siapa yang tahu bahwa keburukan itu sebetulnya ada pada diri kita. Ustadz Salim mencoba mengingatkan kita untuk terus mengintropeksi diri, terus dan terus.
Dalam sebuah hadits yang di riwayatkan oleh imam Abu Dawud, Rosululloh SAW. Pernah bersabda, “Sesungguhnya di antara hamba-hamba Allah terdapat orang-orang yang bukan nabi, dan bukan pula syuhada. Tapi bahkan para nabi dan syuhada cemburu pada mereka dihari kiamat nanti, tersebab kedudukan yang diberikan oleh Allah pada mereka. Mereka itu adalah segolongan manusia yang saling mencintai karena rahmat Allah. Bukan karena sebab kekerabatan dan darah. Bukan pula di dasarkan pemberian harta. Demi Allah, wajah mereka pada hari itu bersinar cemerlang dan mereka berada diatas cahaya. Mereka tidak merasa khawatir ketika manusia lain ketakutan, dan mereka tidak bersedih ketika manusia lain berduka.”
Membaca buku ini kita dapat belajar banyak dari orang-orang yang diakrabkan hatinya oleh Allah atas dasar keimanan yang mereka miliki. Sebutlah persahabtan antara Zaid bin Tsabit dengan Ibnu Abbas. Meski sangat berbeda pandangan tentang masalah waris, namun ketika bertemu, keduanya begitu mesra, saling memuji dan lain sebagainya.
Atau persahabatn antara Ali bin Abu Thalib dengan Talhah. Meski sejarah menggambarkan betapa mereka sangat bertentangan saat perang Jamal. Namun Ustadz Salim menepis itu semua, dia mengatakan bahwa sebetulnya Talhah telah mengunjungi Ali. Dengan rasa kasih dan sayang antara keduanya, mereka menyepakati untuk menghentikan perang. Namun ketika Talhah keluar dari rumah Ali, ia dibunuh oleh seseorang yang tidak senang dengan perdamaian mereka.
Oleh karenanya, ketika hubungan kita dengan seseorang sedang buruk. Atau ketika semua orang seakan menjauh dari kita, periksalah diri kita sendiri. Siapa tahu iman kita sedang compang-camping, sehingga segala perbuatan yang kita lakukan terkesan tidak membuat nyaman orang lain.
Islam adalah agama yang sangat mengedepankan cinta kasih antar sesama. “tidak dikatakan beriman seseorang, manakala dia belum bisa mencintai saudaranya (muslim) seperti ia mencintai dirinya sendiri” Begitulah kiranya ajaran rosul kita.
Memabaca tulisan-tulisan Salim A Filah, kita tidak hanya mendapat petuah-petuah mutiara yang menenangkan. Melainkan juga kita akan mendapat penyegaran-penyegaran terhadap sejarah, filsafat, dan juga pengetahuan-pengetahuan yang lain.
Selain itu, nilai-nilai sastra dalam setiap tulisannya terasa begitu kental. Beliau selalu menyelipkan puisi-puisi dalam stiap karyanya.
“Dalam dekapan ukhwah, kita mengambil cinta dari langit lalu menebarkannya di bumi. Sungguh disurga, menara-menara cahaya menjulang untuk hati yang saling mencinta. Mari membangun dari sini, dalam dekapan ukhwah.” Salim A Fillah.


Penulis adalah penikmat segala jenis buku.

Menjaring Pemimpin Berkarakter Qur’ani

Sering sekali bangsa kita disebut-sebut sebagai bangsa yang multi-krisis, karena berbagai ketimpangan yang terjadi didalamnya, baik itu dari segi budaya, sosial terlebih lagi ekonomi. Sehingga harus segera dicari obatnya. jika tidak, harapan untuk keluar dari multikrisis hanya akan menjadi angan-angan belaka. Hemat penulis, salah satu penyebab multi krisis di Indonesia dikarenakan dampak krisis kepemimpinan (crisis leadership) itu sendiri, yang menjadi titik hitam sejarah perjalanannya.
Memang tak bisa dielakkan, absennya pemimpin yang nasionalis dan relegius merupakan malapetaka besar bagi bangsa ini. Nasionalisme Religius adalah sintesis Nasionalis ‘neutural agama’ dengan Islam. Nasionalisme Indonesia yang dimaksud adalah kearifan tradisonal bangsa. Pemimpin Nasionalis yang ber-ketuhanan adalah solusi yang tepat untuk krisis kepemimpinan saat ini.
Relegius berarti, ia taat terhadap norma-norma agama. Nilai-nilai keberagamaan ia jadikan api semangat dalam ber-negara. Seperti yang dikatakan Fazlur Rahman, Negara adalah alat untuk agama. Maka untuk menekankan keadilan dan memelihara perdamaian dan ketertiban, harus adanya keseimbangan antara nilai-nilai nasionalis dan keagamaan.
Maka apabila api semangat Nasionalis relegius telah menyatu pada raga seorang pemimpin, tidak menutup kemungkinan jalan hidup (way of life) baru akan terbuka. Para pemimpin bekerja sesuai dengan poksinya. Sifat nasionalis relegius adalah sifat pemimpin masa depan. Ia tidak memimpin suatu bangsa dengan hawa nafsunya akan tetapi mempin dengan cinta kasih kepada tanah airnya.
Sebetulnya, di Indonesia sendiri bukan tidak ada corak pemimpin yang memiliki nilai-nilai Nasionalis Religius. Kita tahu bahwa mayoritas penduduk Indonesia pemeluk agama islam. Dan tidak sedikit pula dari jutaan umat islam di Indonesia yang memiliki karakter lidership yang Qur’ani. Namun permasalahannya kemudian, mampukah  manusia-manusia berkarakter pemimpin qur’ani tersebut menembus sistem perpolitikan Indonesia dan menduduki kursi kekuasaan Negara?
Menjaring pemimpin berkarakter qur’ani
Salah satu agenda besar bangsa Indonesia adalah pesta demokrasi Pemilu yang dilaksanakan lima tahun sekali. Jutaan rakyat Indonesia terlibat langsung dalam menentukan nasib bangsa. Semua orang yang sudah memiliki persyaratan memilih, berduyun-duyun menuju TPS untuk memilih pemimpinnya, terlepas dia mengenal atau tidak siapa orang yang dia pilih itu.
Semenjak lahirnya undang-undang nomor 23 tahun 2003 yang mengatur tentang pemilihan eksekutif secara langsung oleh rakyat, banyak yang berpendapat bahwa ini lebih demokratis. Rakyat lebih berdaulat dan presiden terpilih akan mendapatkan legitimasi politik yang besar dari rakyat. Namun sayang, untuk mendapatkan legitimasi dari rakyat tersebut para calon eksekutif negara itu menempuh jalan politik yang kurang baik. Mereka berkampanye dengan menebar ribuan pamplet dan benner di seluruh peloksok Indonesia, membagi-bagikan kaos, membagi-bagikan uang (money politic), atau yang lebih gandrung sekarang ialah membuat filem-filem pendek pencitraan baik dari para calon pemimpin tersebut. Sehingga biaya untuk menjadi pemimpin terkesan sangat mahal.
Untuk menanggulangi biaya kompanye yang sedemikan mahal, para calon akan melakukan apa pun untuk mendapatkan bantuan dana. Termasuk mengadakan perjanjian-perjanjian gelap dengan para investor asing. Misalnya, jika ia menang menjadi pemimpin terpilih, maka ia akan mempermudah perijinan bagi investor asing itu untuk penambangan pasir, emas, minyak bumi dan lain-lain. Kasarnya, para calon pemimpin itu menjual tanah airnya sendiri.
Sialnya, sampai detik ini cara yang demikian relative berhsil. Karena banyak dari rakyat Indonesia belum mampuh membaca karakter dari calon pemimpinnya tersebut. Mereka hanya mampu meraba-raba melalui performen, retorika, atau apa saja yang sudah diberikan kepada mereka. Mereka tidak mampuh membaca niat terselubung dari calon pemimpinnya itu. Mereka tidak sadar, satu suara yang mereka berikan sangat menentukan kemajuan dari bangsanya. Akibatnya, bangsa kita semakin hari semakin terpuruk.
Sistem pemilu yang seperti ini sesungguhnya telah menutup keran guna terjaringnya seorang pemimpin yang memiliki sifat nasionalis religious. Seseorang yang sudah tertanam dalam dirinya sebuah nilai religius, tidak akan melakukan tindakan-tindakan kotor. Maka dari itu, jika sistemnya tidak dirubah, maka keinginan untuk mendapatkan kepemimpinan nasionalis religious, hanya isapan jempol belaka.
Mengingkari sila ke-4
            Pemilihan pemimpin eksekutif Negara dengan cara langsung seperti ini, sesungguhnya sudah mengingkari makna pancasila terutama sila ke empat. Disana secara eksplisit dikatakan, “kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan, dalam permusyawaratan/perwakilan.” Dengan demikian, seyogyanya pemilihan para pemangku tinggi Negara itu harus dikembalikan pada forum musyawarah yang dalam hal ini adalah dewan perwakilan rakyat (DPR).
            Pada dasarnya, untuk menjaring pemimpin yang berkarakter qur’ani yang akan menjalankan kepemimpinan nasionalis religious, terlebih dahulu kita harus membenahi sistem pemilihannya. Sebab cara pemilu yang berkembang semenjak tahun 2004 nyatanya menjadi episentrum kegagalan pemimpin kita. Selain itu, kita juga harus memperketat peraturan dalam berkampanye, seperti mengatur anggaran biaya kampanye dan atau hal-hal lain yang dapat memicu ketidak adilan.
            Terakhir, penting rasanya untuk terus meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia, salah satunya dengan terus meningkatkan budaya literasi. jangan hanya menyuarakan pembangunan secara infrastruktur saja, namun suprastruktur juga harus terus di bangun.
Bima S, pengurus Rumah Baca Damar26 Cilegon, purwakarta

Hamidi, Simpatisan Rumah Baca Damar26.

Mengapa Reformasi?

Istilah reforrmasi semakin marak diucapkan di Indonesia –khususnya oleh para aktivis. Semenjak tumbangnya pemerintahan Soeharto atau rezim orde baru. Ada literature yang mengatakan bahwa reformasi mulai populer semenjak pergolakan keagamaan kristen yang hendak terpecah dari kristen katolik menjadi Kristen protestan pada abad 16. Terlepas dari itu semua, inti dari ajaran reformasi adalah perubahan, pembaharuan, perombakan dari satu system yang sudah buruk, menjadi system yang lebih baik. Atau dari kekuasaan yang abous of power menjadi kekuasaan yang lebih berpihak kepada rakyat.

Reformasi Indonesia

Jika kita melihat secara kasat mata, Indonesia adalah Negara yang selalu melakukan reformasi dalam tubuhnya. Mulai dari masa penjajahan, angkatan muda Soekarno dan kawan-kawan mampu mereformasi Indonesia menjadi Negara yang merdeka. Hingga memunculkan pemerintahan yang disebut orde lama. Setelah orde lama dianggap tidak mengutamakan lagi kepentingan rakyat, maka bangsa Indonesia kembali melakukan reformasi untuk menumbangkan orde lama, hingga berdirilah orde baru pimpinan jendral Soeharto. Hampir sama dengan Soekarno, Soeharto pun di kudeta oleh para mahasiswa yang mengepung gedung DPR di tahun 1998. Munculah sebuah era yang disebut dengan era reformasi. Terkadang saya pribadi tidak mengerti, mengapa era setelah tumbangnya Soeharto dinamanakan dengan era reformasi. Padahal, tumbangnya Soeharto bukanlah berarti bahwa reformasi telah di mulai.
Itu semua perubahan. Itu semua reformasi. Namun sayang, reformasi yang terjadi di Indonesia, bukanlah reformasi yang didasarkan oleh keinginan masyarakat. Namun reformasi yang terjadi di Indonesia adalah  reformasi hasil dari politik konspirasi dunia. Kita bangsa Indonesia, hanya dijadikan buah catur yang siap diarahkan kemana saja.

Soekarno merupakan orang yang sangat menentang Amerika, hubungannya lebih dekat dengan rusia. Ini terbukti dengan diakhir masa jabatnya, hubungan Soekarno dengan komunis semakin erat. Amerika sangat gerah karena ia tidak bisa melakukan interaksi ekonomi dengan Indonesia yang dinilai sebagai Negara yang sangat berpotensi. Dengan kecedasan dan kekuasaannya, kemudian Amerika melakukan kong kalikong dengan para pejabat tinggi dan terutama para millter Indonesia agar ditumbangkkannya pemerintahan Soekarno. Dijadikannya mahasiswa sebagai alat. Isu-isu ditebarkan. Kemudian mahasiswa pun bergolak, menggempur kekuasaan Soekarno, hingga Soekarno mampu dikudeta.

Ini semua adalah permainan politik yang cantik dari Jendral Soeharto yang pada waktu itu menjadi antek-antek Amerika dan Negara-negara super power lainnya. Ini bisa dibuktikan. ketika Soeharto menjabat sebagai presiden, pada tahun 1967 ia mengadakan rapat besar-besaran di jeneva, Swis. Dimana dalam rapat itulah seluruh kekayaan Indonesia mulai di perdagangkan kepada Negara-negara lain dengan dalih infestasi. Inilah awal mula korporat asing masuk di Indonesia. Dan menjarah seluruh kekayaan alam Indonsesia.
Pada tahun 1998, Soeharto rupanya telah sadar akan tindakannya yang telah menjual aset-aset Indonesia dan membuat rakyat Indonesia sengsara. Pada tahun inilah ia hendak menasionalisasikan seluruh perusahaan milik asing menjadi milik Indonesia, termasuk Freeport yang kontraknya telah selesai. Namun niat baik Soeharto ini rupanya telah diketahui oleh Negara super power, Amerika khususnya. Akhirnya dengan politik konspirasi, para anggota dewan disuap, mahasiswa-mahasiswa diperalat dengan dikompori oleh isu-isu yang mereka (Amerika dkk) buat. Sehingga turunlah kembali Soeharto, dan kekayaan alam Indonesia masih digenggam asing. Begitu seterusnya sampai pemerintahan sekarang. Semuanya di penuhi dengan intrik-intrik politik konspirasi asing. Indonesia hanya manjadi boneka mainan belaka.
Dengan demikian, jelaslah sudah bahwa Reformasi yang terjadi di Indonesia tak lebih hanya konspirasi besar dunia. Bukan kesadaran murni dari rakyatnya.

Mengapa Reformasi ?

Sebab kita belum benar-benar melakukan reformasi, bahkan dimulai pun belum. Indonesia masih dalam kerangkeng yang membuatnya semakin lemah dan terpuruk.
Para pemimpin kita sekarang tidak mempunyai visi yang kuat untuk membebaskan kita dari keterpurukan, bahkan kita sering dijadikan sebagai alat untuk memperkaya dirinya sendiri. Mereka seharusnya sudah di pulangkan ke kampungnya masing-masing.
Kitalah, generasi yang tidak hanya mempunyai kecerdasan intelektuil, namun juga kecerdasan emosional dan spiritual yang harus mulai bergerak. Negara kita butuh orang-orang yang sadar akan nilai-nilai nasionalisme dan humanisme.
Sekarang, bukan saatnya lagi kita tersekat-sekat oleh agama, ormas, atau kotak-kotak lain yang menyempitkan gerak kita. Sekarang waktunya berhimpun, menyatukan visi untuk membangunkan Indonesia yang mati suri.
Penulis adalah pengasuh Rumah Baca Damar26

Mahasiswa Jinayah Siyasah Semester 4.

So’al Mbalelo Kader Golkar

Kekisruhan menjelang pemilu 2014 akhir-akhir ini sudah semakin terasa. Hampir setiap hari media memberitakan tentang segala urusan terkait dengan pemilu. Salah satu yang sedang ramai dibicarakan ialah so’al mbalelonya kader partai golkar.
Hal ini ternyata banyak menarik perhatian masyarakat, termasuk juga saya. Mereka ingin tahu, apa sebenarnya yang menjadi alasan utama kader-kader golkar sehingga meninggalkan partai yang sudah lama menaunginya tersebut.

Bermula dari keluarnya Rahmatulloh selaku ketua PK golkar kecamatan purwakarta, yang juga menjabat sebagai anggota DPRD. Hengkangnya Rahmat ini menimbulkan banyak spekulasi, baik itu dari kalangan pemerhati politik atau pun dari kalangan akademisi. Spekulasi terbesar ialah bahwasanya ada kekeroposan di tubuh golkar, khususnya diwilayah Cilegon, sehingga kader yang potensi konstituennya cukup besar seperti Rahmatulloh memilih keluar dan masuk dalam partai yang lain. Hal ini juga dikuatkan dengan keluarnya dua kader lainnya seperti Musthofa dan Sukmayada. Ini semakin memperkuat, bahwa dalam tubuh golkar ada semacam sembilu yang menyakiti para kadernya.

Dalam harian Banten Post edisi 13/05, wakil sekertaris DPD II partai Golkar M Nasir seolah menertawakan alasan Musthofa keluar dari partai, yakni karena tidak diberikan proyek. Namun, jika kita mau menelaah statement Nasir kepada Musthofa tersebut dalam kajian semiotika bahasa, ini merupakan suatu symbol. Artinya, Nasir mencoba menutup-nutupi apa yang sebetulnya terjadi dalam tubuh partai. Boleh jadi alasan Musthofa itu adalah gambaran umum kinerja partai yang sesunguhnya. Bahwasanya orang bergabung dengan partai politik, mindsetnya bukan lagi ingin berpartisipasi untuk perubahan bangsa agar lebih baik, tapi saling kejar mengejar proyek untuk kepentingannya pribadi. Baik itu proyek jasa, atau proyek untuk mendapatkan jabatan tertentu.

Kalau kita mau menengok sejarah, sebutlah pada era Soekarno dan kawan-kawan. Militansi kader terhadap partainya sangatlah tinggi. Mereka sangat menjunjung tinggi kesatuan dan kesolidan pergerakan partai. Sebab mereka satu jiwa dan satu misi yaitu untuk membuat Indonesia jauh lebih baik. Tidak terselip kepentingan untuk medapatkan tender atau untuk diangkat menjadi pemegang jabatan tertentu.  Kalau pun ada konflik, persis konflik itu hanyalah masalah perbedaan cara atau sudut pandang dalam memulai suatu pergerakan.

Namun, jika mindsetnya sudah seperti kader-kader golkar diatas, maka ketika kepentingan pribadinya sudah tidak lagi mampu di penuhi oleh partai, atau partai lebih memihak kepada kader yang lain, maka pilihan untuk ‘cabut’ dari partai bukanlah persoalan yang berat.

Jelaslah sudah, bahwa sembilu yang menyakiti kader golkar itu adalah tidak terpenuhinya sebuah kepentingan. Musthofa yang backgroundnya sebagai pengusaha tentu kepentingannya adalah proyek. Sebagaimana kebanyakan kader golkar lainnya juga memiliki background yang sama dengan Musthofa.
M Nasir bisa berkata demikian –seolah dirinya benar- karena mungkin saja kepentingan pribadinya dalam tubuh golkar masih terpenuhi. Saya tidak yakin jika apa yang menjadi kepentingan Nasir tidak lagi terpenuhi dia tidak akan mengambil tindakan seperti Musthofa atau yang lainnya.

Inilah realita perpolitikan di Indonesia. Partai politik yang seharusnya menjadi tempat peracikan formula untuk kebaikan Negara, kini telah berubah serupa badan usaha atau badan penyalur kepentingan.
Tidak ada kawan atau musuh sejati dalam politik, begitu kiranya ajaran Nicolo Macheavelli yang sesungguhnya telah melukai cita-cita politik Aristoteles, sang pelopor istilah politik. Tidak ada yang salah dalam politik, namun orang-orang yang menyalah-artikanlah yang salah. Tidak ada yang salah dengan partai Golkar, tapi oknum-oknum yang menyalahgunakanlah yang salah.

Penulis adalah pengurus balai belajar Rumah Baca Damar26 Cilegon, Purwakarta.

Bendahara Umum FLP Cilegon.

Senin, 24 Desember 2012

Indonesia Incorporated: Melihat Wajah Baru Imperealisme


“jika kita tidak berhati-hati, kita akan menjadi bangsa kuli atau kuli di antara bangsa-bangsa”  (Bung Karno)

Siapa yang tidak sepakat bahwasanya Indonesia merupakan negeri yang memiliki sumber daya alam yang melimpah ruah. Negeri jelmaan surga sehingga tongkat kayu dan batu menjadi tanaman.
Judul: Indonesia Incorporated
Penulis: Zaynur Ridwan
Penerbit: Salsabila
Tebal: 352 H
Wilayah Indonesia yang membentang dari sabang sampai merauke menyimpan potensi kekayaan yang luar biasa. Hutan, gunung, sawah, laut adalah aset tiada tanding yang seharusnya mampu membuat rakyatnya makmur sejahtera.

Namun, fenomena kekayaan alam Indonesia itu tidak sebanding dengan kenyataan kehidupan rakyatnya sendiri. Negara kita termasuk salah satu Negara termiskin, tertinggal jauh dengan Singapura yang hanya sekuku hitam jika dibandingkan dengan luas territorial Indonesia.

Mengapa ini semua bisa terjadi? Dalam novel Indonesia Incorporated karangan Zaynur Ridwan inilah, jawabannya bisa kita dapatkan dengan gamblang tanpa tedeng aling-aling.
Novel ini menyingkap tabir korporasi asing di Indonesia yang sejatinya menjadi sebab atas terpuruknya ekonomi bangsa Indonesia.  Korporasi asing tersebut adalah wajah baru imperealisme. Setelah Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya pada tahun 1945, bangsa asing tidak henti-hentinya bersiasat untuk kembali menyusup dan menguasai segala sector. kini, dengan cara yang sangat rapih dan halus, berkedok globalisasi, mereka berhasil kembali masuk dan menjajah Indonesia, bahkan kali ini jauh lebih mengerikan dari sebelumnya.

Papua adalah daerah penghasil emas terbaik, berton-ton emas dihasilkan dari tanah hitam tersebut. Namun sayang, rakyat papua hanya mendapatkan 1% dari hasil buminya tersebut, 9,36% masuk ke pemerintah dan sisahnya “dirampog” semua oleh Amerika. Serta masih banyak lagi daerah-daerah berpotensi di Indonesia yang rata-rata sudah dikuasai oleh negeri asing, bahkan mungkin sampai kepada daerah kita sendiri, Cilegon.


Ini semua terjadi karena kepongahan para pejabat Indonesia, terutama pada masa orde baru --hingga sekarang-- yang terlalu mudah terbuai oleh intrik-intrik yang di paparkan oleh para asing. Padahal jauh-jauh hari Bung Karno sudah mengingatkan, bahwasanya kita harus berhati-hati jika kita tidak mau menjadi bangsa kuli atau kuli diantara bangsa-bangsa.

Bisa kita lihat fenomena saat ini, rakyat yang berasal dari negeri surga ini dijadikan budak dinegeri orang. Ribuan TKI nasibnya terkatung-katung entah bagaimana Bahkan di negerinya sendiri pun mereka menjadi budak. Kita bisa lihat di toko-toko besar, atau perusahaan-perusahaan besar yang ada diindonesia, para tengkulak asing duduk manis dikursi empuk, sedangkan warga pribumi hanya menjadi kuli panggul atau paaling banter hanya menjadi mandor.

Novel Indonesia Incorporated ini sangat menarik, terutama bagi orang-orang yang peduli akan nasib bangsanya. Meskipun fiksi, namun saya rasa ini adalah realitas yang terjadi dan yang selama ini di tutup-tutupi. Indonesia sedang dalam cengkraman.

Jumat, 21 Desember 2012

“Madrasahis” Pramuka MTs Al-khairiyah Karangtengah


Jika seseorang mencintai negaranya, kemudian berjuang mengerahkan seluruh tenaga untuk membuat bangsanya jauh lebih maju, maka biasanya orang tersebut diberi julukan ‘berjiwa nasionalis’. Namun bagaimana kemudian jika seorang siswa berjihad mati-matian untuk kemajuan sekolahnya, atau dengan kata lain untuk mengharumkan nama sekolahnya, kira-kira di beri julukan apakah siswa ini? Saya bingung mencari istilah yang tepat untuknya, maka karena siswa yang saya maksud itu bersekolah di madrasah, saya sebut saja ia ‘madrasahis’

Asti dan Kawan-kawan saat melewati lintasan pertama
Hari ini adalah hari pertama anggota Gerakan Pramuka pangkalan MTs Al-khairiyah karangtengah mengikuti perkemahan akhir tahun yang diselenggarakan oleh kwartir ranting Purwakarta. Sebelumnya, berhari-hari mereka mengikuti latihan disekolah secara berat dan ketat. Saya pribadi yang menjadi Pembina pramuka merasa sangat  kagum dengan mereka, meskipun mereka terkadang suka mengeluh dengan system latihan yang saya berikan, namun keesokan harinya mereka kembali latihan dengan penuh semangat.

Pada hari pertama ini, mereka sudah mengikuti beberpa mata lomba yang diberikan panitia. Alhamdulillah, dari sekian mata lomba tersebut, mereka berhasil menjuarainya. Namun, yang paling mengesankan bagi saya ialah ketika perlombaan bakiak. Adalah regu putri, yang di gawangi oleh Asti, Ana, Atul dan I’im. Dari awal pun sebenarnya saya sudah yakin mereka akan mendapatkan juara, barangkali ketiga atau kedua. Sebab saya melihat dari cara mereka latihan, mereka sangat lincah sekali menggunakan bakiak.

Dalam perlombaan bakiak ini peserta hanya diwajibkan melakukan satu kali putaran, dan tidak ada final setelah itu. Langsung diambil juara satu,dua dan tiga. Asti dan kawan-kawan pun sudah siap dengan bakiaknya, dan ketika peluit ditiup, dengan cepat Asti meluncur di atas bakiak. Hebat, pada lintasan pertama Asti memimpin. Lawannya tertinggal jauh. Namun, ketika berbelok untuk lintasan kedua, Asti terjatuh dari bakiaknya. Ia dan kawan-kawannya tersungkur keras. Saya memperhatian mereka dari garis finis, mereka sangat susah untuk kembali berjalan.  Wal hasil, lawannya pun dapat menyusulnya. Asti terlihat begitu cemas, wajahnya puct pasi. Mencoba untuk tenang, Asti dan kawan-kawan pun kembali berjalan. Namun, Ah.. ia tertinggal jauh. Tiba-tiba saja ia berlari cepat sekali, bahkan sangat cepat beserta bakiaknya. Satu persatu lawannya kembali tersusul, Asti terus berlari, kini ia hampir menyusul lawannya yang paling depan. Dan “priiit…” peluit panitia menetapkan Asti dan kawan-kawan menjadi juara dua. Akan tetapi, apa yang terjadi dengan Asti, tubuhnya lunglai dan tiba-tiba saja ia terjatuh pingsan. Sesegera mungkin Rohani membopongnya ke Tenda. Saya segera menyusul, ternyata bukan Cuma Asti yag pingsan, Atul juga ikut tidak sadarkan diri.

Saya dan Pembina yang lain mencoba menahani mereka dengan obat-obatan seadanya. Tidak lama kemudian Asti sadar, di susul dengan Atul. Lutut asti lecet akibat tersungkur, saya memperban lukanya itu.
Saat saya memperban Luka Asti, saya merasa sangat terharu. Ia dan kawan-kawannya mengorbankan segalanya untuk membawa harum nama Madrasah. Tak jauh beda dengan Soekarno, Agus salim, dan lain sebagainya yang mengharumkan nama bangsa kemudian di sebut Nasionalis. Mereka yang berjuang berdarah-darah demi Madrasah itu, kemudian saya sebut Madrasahis.

Wallahu’alam.

21 Desember 2012. (23:55)

Rabu, 19 Desember 2012

Susahnya Menjadi “Pahlawan”



“…Semboyan kita tetap, “Merdeka atau mati.” Dan kita yakin saudara-saudara, pada akhirnya pastilah kemenangan akan jatuh kepada kita. Sebab Allah akan berpihak kepada jalan yang benar. Percayalah saudara-saudara, Tuhan akan melindungi kita sekalian.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Merdeka!” (Pidato Bung Tomo)

Cuplikan pidato Bung Tomo diatas, mengisaratkan keberanian dan rasa optimisme tinggi untuk berperang melawan tentara sekutu dan NICA yang kembali mendaratkan kakinya untuk menjajah Indonesia pada tanggal 29 September 1945 selepas Proklamasi kemerdekaan dibacakan. Mendengar pidato Bung Tomo tersebut, rakyat Indonesia semakin bergelora jiwanya untuk membasmi segala bentuk penjajahan di Bumi Pertiwi.

Resolusi Jihad Nahdatul Ulama

Sebelum Bung Tomo menyuarakan Pidatonya, sesungguhnya Rakyat Indonesia –yang mayoritas beragama islam-- Hatinya sudah terpanggil untuk berperang melawan Sekutu dan NICA, atas dasar Resolusi Jihad Nahdatul Ulama. Ketika Sekutu dan NICA datang ke berbagai daerah di Indonesia untuk kembali menjajah, pemerintah Republik Indonesia tidak melakukan tindakan atau perlawanan yang nyata. Maka, perhimpunan Nahdatul Ulama seluruh Jawa dan Madura mengadakan rapat besar pada tanggal 21-22 Oktober 1945 untuk mengajukan Resolusi Jihad kepada Pemerintah Indonesia. Mereka menyatakan bahwa setiap bentuk penjajahan adalah suatu kezaliman yang melanggar prikemanusiaan dan nyata-nyata diharamkan oleh agama Islam.

Setelah adanya Resolusi Jihad dari Nahdatul Ulama itu, sekitar 60 juta rakyat Indonesia siap berjihad membela agama dan bangsa Indonesia.
Ditambah dengan pidato-pidato heroik dari Bung Tomo, apalagi setiap akhir pidatonya, Bung Tomo selalu mengucapkan takbir. Jelas semakin membuat mujahid-mujahid muslim semakin bergelora.

Kemenangan Indonesia

Kegigihan rakyat Indonesia yang mempertahankan kemerdekaan, menimbulkan pecahnya pertempuran antara tentara sekutu dan NICA dengan rakyat Indonesia pada tanggal 10 November 1945 --oleh karena itulah hari pahlawan di peringati pada tanggal tersebut. Tentara sekutu dan NICA yang notabene pemenang dari Perang Dunia II (1939-1945) serta Perang Asia Timur Raya (1941-1945) yang tentunya mempunyai persenjataan yang amat lengkap, tidak membuat rakyat Indonesia gentar meski hanya mempunyai beberapa pucuk senjata hasil rampasan dari jepang, selebihnya menggunakan bambu runcing.

Amat membanggakan sekali, semangat mempertahankan tanah air yang didorong oleh sepirit religiusitas (Syahid) membuat bangsa Indonesia memenangkan peperangan terebut. Prestasi yang luar biasa, jika pada saat perang Dunia II sekutu dan NICA tidak pernah kehilangan panglima besarnya, maka pada saat melawan tentara Indonesia, sekutu dan NICA kehilangan jendral besar mereka yang bernama Brigadir Jendral Mallaby. Mereka (tentara sekutu dan NICA) pun akhirnya lari tunggang langgang meninggalkan Negeri Indonesia.

Ini patutnya kita jadikan pelajaran berharga, khususnya untuk generasi muda penerus bangsa. Dulu, bangsa kita tidak bisa dianggap remeh. Tidak bisa disembarangkan oleh bangsa lain. Negara kita punya karisma yang lebih. Namun, apakah karisma itu masih bertahan sampai sekarang? Saya yakin pembaca mempunyai penilaian masing-masing.

Susahnya Jadi Pahlawan

Kini, secara dhohir Negara kita memang telah merdeka, Tidak ada lagi imperealisme yang terjadi di bangsa ini, semua orang yang dianggap mempunyai peran besar dalam proses kemerdekaan diberi gelar pahlawan. Lantas masih bisakah kita menjadi pahlawan?

Sejatinya, pahalawan adalah orang yang berani dan mau mengorbankan dirinya demi menegakkan kebenaran. Orang-orang yang memiliki sikap patriotisme dan berjiwa kesatria. Maka dari itu, di tengah keadaan bangsa yang carut-marut ini, di tengah bangsa yang sedang terpuruk karena korupsi, di tengah bangsa yang selalu terjadi ketimpangan sosial ini, sesungguhnya kita juga bisa menjadi pahlawan. Dengan melakukan hal apapun yang bisa kita lakukan demi bangkitnya kembali Indonesia. Contoh kecilnya seperti yang dilakukan oleh Dahlan Iskan, iya mendobrak dan membongkar kepongahan anggota DPR yang menjadi “Calo” atas perusahaan-perusahaan BUMN. Hal yang semacam ini patut kita acungi jempol dan patut juga diberi gelar pahlawan. Dahlan dengan gagah berani membuka hal kotor yang selama ini disembunyikan.

Namun sayang, untuk melakukan hal tersebut tidaklah mudah. Mungkin sama sulitnya dengan perjuangan pahlawan jaman dulu. Butuh tekad dan keteguhan hati yang mantap. Oleh karena itu, kita sepatutnya kembali kepada kebebasan kita selaku manusia. Tidak seharusnya kita takut kepada sesuatu yang salah, kebenaran memanglah harus ditegakkan.

Pada akhirnya, penulis ingin mengajak, marilah bersama-sama menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Membenarkan yang benar, mensalahkan yang salah. Membantu yang berhak dibantu, menolong yang sepatutnya harus ditolong. Jadilah pahlawan minimal di lingkungan kita masing-masing. Merdeka!

Bima S. Penulis adalah pendiri komunitas baca Damar26
Pecinta segala jenis buku

Kamis, 13 Desember 2012

Demokrasi & Literasi


Suatu ketika ada seorang sahabat datang kepada saya, ia menanyakan pendapat saya tentang demokrasi. Sebisanya saya mengungkapkan apa yang saya tahu tentang demokrasi. Namun, dengan gencar ia menepis pendapat-pendapat saya. Akhirnya saya memutuskan untuk diam dan mendengarkan apa yang sahabat saya itu ucapkan.

Dia menganggap bahwa demokrasilah yang menyengsarakan kehidupan rakyat Indonesia, demokrasi itu hanya menguntungkan sebagian orang saja, demokrasi itu sekuler dan kafir, demokrasi hanya membuat para kapitalis semakin menjamur dan lain sebagainya. Saya mendengarkan dengan seksama apa yang sedang ia bicarakan. Kemudian ia menawarkan konsep suatu negara terhadap saya, dia bilang Indonesia sudah saatnya menerapkan hukum islam, layaknya nabi Muhammad ketika di madinah. Intinya dia mengajak saya bergabung bersamanya untuk turut memperjuangkan Negara islam di indonesia. Saya hanya tersenyum mendengar ajakannya itu, saya memberi penjelasan kepadanya bahwa saya belum bisa, mungkin lain waktu saja.
Sedikitnya saya pernah membaca tentang konsep Negara islam, dan sejujurnya, bukan saya tidak suka dengan system itu, tentunya sebagai orang islam saya sangat bangga manakala hukum-hukum islam bisa diterima dengan baik oleh masyarakat Indonesia. namun saya kira  dengan kondisi masyarakat Indonesia sekarang ini, agaknya kurang tepat. Bukan kedamaian yang kita dapatkan, bahkkan mungkin peperangan yang akan terjadi pada rakyat Indonesia.
Yang menjadi pikiran saya adalah, benarkah demokrasi yang menyebabkan carut-marutnya bangsa ini? Agaknya sahabat saya itu berbeda pandangan dengan saya dalam memahami demokrasi.

MENGENAI DEMOKRASI

Umum mengartikan demokrasi adalah pemerintahan oleh rakyat (Demos-Kratien), artinya rakyat diberikan sedemikian hak untuk ikut andil dalam menjalankan roda pemerintahan. Tentu saja tidak semua rakyat, demos disitu kemudian diartikan dengan perwakilan. Rakyat memilih wakilanya sebagai penyambung lidah atas kesejahteraan mereka sendiri.

Masalahnya kemudian, rakyat yang seperti apa yang berhak menjadi wakil atas rakyat yang lainnya. Apakah dengan paham demokrasi itu kemudian menghalalkan semua golongan rakyat untuk menjadi wakil, entah itu dari golongan pengusaha, kiyai, akademisi, atau pun dari golongan buruh. Tidak peduli akan basicnya sebagai pemimpin atau bukan, tidak peduli dia punya kemampun atau tidak, tidak peduli dia seorang koruptor atau bukan, yang pasti jika rakyat telah menghendaki, dia akan menjadi seorang wakil rakyat. Saya kira, cara pandang terhadap demokrasi yang seperti inilah yang membuat bangsa ini menjadi ambruk.
Sayangnya, cara pandang yang demikian itu menerap pada rakyat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak peka terhadap calon pemimpinnya. Bukanlah kemampuan yang dilihat, akan tetapi uang dan popularitas. Banyak rakyat yang kemudian memilih para wakilnya atas dasar uang yang diberikan saat kompanye, yang jelas-jelas itu mencederai nilai-nilai demokrasi. Atau pun karena popularitas calon pemimpin tersebut, semisal seorang artis atau aktor. Maka dengan mudah rakyat terbuai oleh kata-kata manisnya.
Seungguhnya, jika cara pandang masyarakat Indonesia masih demikian, maka saya anggap Indonesia belum mampu atau gagal dalam menerpkan system demokrasi. 

Pentingnya Literasi Dalam Berdemokrasi

Paling tidak, ada satu hal yang harus dipenuhi jika demokrasi ingin berjalan dngan baik, satu hal tersebut ialah “kecerdasan rakyat”, baik itu rakyat yang mencalonkan diri sebagai wakil rakyat, atau pun rakyat yang hendak memilih wakil rakyat.
Sebagai wakil rakyat, tentunya ia harus cerdas. Baik itu cerdas secara intelektualnya sebagai pemimpin, emosionalnya, terlebih lagi spiritualnya. Ketika hal ini sudah terpenuhi, maka suatu kepemimpinan akan menjadi seimbang. Kecerdasan yang ia miliki akan memenjaranya untuk melakukan tindakan-tindakan yang menyimpang.

Selanjutnya, sebagai rakyat yang diwakili seyogyanya rakyat juga harus cerdas dalam memilih wakilnya. Tidak terpengaruh akan popularitas ataupun dengan uang (money politik), masyarakat harus keritis dan peka, karena jika sedikit saja kita salah dalam memilih, maka imbasnya akan sangat besar. Untuk menggapai kecerdasan itu tak ada lain tentunya kita harus membaca, baik itu membaca secara tekstual atau pun kontekstual. Karena dengan membaca paling tidak kepala kita sudah  mempunyai gambaran tentang apa dan bagaimana sosok pemimpin kita nanti.

 Disinilah pentingnya budaya literasi dalam berdemokrasi. Dalam budaya literasi kita diajarkan untuk menyikapi suatu hal dengan keritis dengan metode membacanya, setelah itu kita di tuntut untuk menuangkan opini kita dalam bentuk tulisan, kemudian mendiskusikanya. Begitu pun saat kita memilih seorang pemimpin, kita tidak bisa melihat seorang pemimpin hanya deri casingnya saja. Kita harus membacanya secara detail, agar kita tidak salah memilih pemimpin yang pongah.

Oleh karenanya, jika kita ingin mendapati demokrasi bisa bangkit, yang implikasinya juga kepada kebangkitan suatu bangsa. Maka kita –pemerinth khususnya-- harus mendukung gerakan-gerakan literasi. Sebab dengan langkah inilah demokrasi dinegara kita tidak hanya baik secara birokrasi, namun juga baik secara substansial.
Wallahu’alam
Penulis adalah pengurus rumah baca Damar26 cilegon.
Mahasiswa semester III IAIN Serang
Alumnus Madarash Al-khairiyah karangtengah