Sabtu, 01 Juni 2013

Mengapa Reformasi?

Istilah reforrmasi semakin marak diucapkan di Indonesia –khususnya oleh para aktivis. Semenjak tumbangnya pemerintahan Soeharto atau rezim orde baru. Ada literature yang mengatakan bahwa reformasi mulai populer semenjak pergolakan keagamaan kristen yang hendak terpecah dari kristen katolik menjadi Kristen protestan pada abad 16. Terlepas dari itu semua, inti dari ajaran reformasi adalah perubahan, pembaharuan, perombakan dari satu system yang sudah buruk, menjadi system yang lebih baik. Atau dari kekuasaan yang abous of power menjadi kekuasaan yang lebih berpihak kepada rakyat.

Reformasi Indonesia

Jika kita melihat secara kasat mata, Indonesia adalah Negara yang selalu melakukan reformasi dalam tubuhnya. Mulai dari masa penjajahan, angkatan muda Soekarno dan kawan-kawan mampu mereformasi Indonesia menjadi Negara yang merdeka. Hingga memunculkan pemerintahan yang disebut orde lama. Setelah orde lama dianggap tidak mengutamakan lagi kepentingan rakyat, maka bangsa Indonesia kembali melakukan reformasi untuk menumbangkan orde lama, hingga berdirilah orde baru pimpinan jendral Soeharto. Hampir sama dengan Soekarno, Soeharto pun di kudeta oleh para mahasiswa yang mengepung gedung DPR di tahun 1998. Munculah sebuah era yang disebut dengan era reformasi. Terkadang saya pribadi tidak mengerti, mengapa era setelah tumbangnya Soeharto dinamanakan dengan era reformasi. Padahal, tumbangnya Soeharto bukanlah berarti bahwa reformasi telah di mulai.
Itu semua perubahan. Itu semua reformasi. Namun sayang, reformasi yang terjadi di Indonesia, bukanlah reformasi yang didasarkan oleh keinginan masyarakat. Namun reformasi yang terjadi di Indonesia adalah  reformasi hasil dari politik konspirasi dunia. Kita bangsa Indonesia, hanya dijadikan buah catur yang siap diarahkan kemana saja.

Soekarno merupakan orang yang sangat menentang Amerika, hubungannya lebih dekat dengan rusia. Ini terbukti dengan diakhir masa jabatnya, hubungan Soekarno dengan komunis semakin erat. Amerika sangat gerah karena ia tidak bisa melakukan interaksi ekonomi dengan Indonesia yang dinilai sebagai Negara yang sangat berpotensi. Dengan kecedasan dan kekuasaannya, kemudian Amerika melakukan kong kalikong dengan para pejabat tinggi dan terutama para millter Indonesia agar ditumbangkkannya pemerintahan Soekarno. Dijadikannya mahasiswa sebagai alat. Isu-isu ditebarkan. Kemudian mahasiswa pun bergolak, menggempur kekuasaan Soekarno, hingga Soekarno mampu dikudeta.

Ini semua adalah permainan politik yang cantik dari Jendral Soeharto yang pada waktu itu menjadi antek-antek Amerika dan Negara-negara super power lainnya. Ini bisa dibuktikan. ketika Soeharto menjabat sebagai presiden, pada tahun 1967 ia mengadakan rapat besar-besaran di jeneva, Swis. Dimana dalam rapat itulah seluruh kekayaan Indonesia mulai di perdagangkan kepada Negara-negara lain dengan dalih infestasi. Inilah awal mula korporat asing masuk di Indonesia. Dan menjarah seluruh kekayaan alam Indonsesia.
Pada tahun 1998, Soeharto rupanya telah sadar akan tindakannya yang telah menjual aset-aset Indonesia dan membuat rakyat Indonesia sengsara. Pada tahun inilah ia hendak menasionalisasikan seluruh perusahaan milik asing menjadi milik Indonesia, termasuk Freeport yang kontraknya telah selesai. Namun niat baik Soeharto ini rupanya telah diketahui oleh Negara super power, Amerika khususnya. Akhirnya dengan politik konspirasi, para anggota dewan disuap, mahasiswa-mahasiswa diperalat dengan dikompori oleh isu-isu yang mereka (Amerika dkk) buat. Sehingga turunlah kembali Soeharto, dan kekayaan alam Indonesia masih digenggam asing. Begitu seterusnya sampai pemerintahan sekarang. Semuanya di penuhi dengan intrik-intrik politik konspirasi asing. Indonesia hanya manjadi boneka mainan belaka.
Dengan demikian, jelaslah sudah bahwa Reformasi yang terjadi di Indonesia tak lebih hanya konspirasi besar dunia. Bukan kesadaran murni dari rakyatnya.

Mengapa Reformasi ?

Sebab kita belum benar-benar melakukan reformasi, bahkan dimulai pun belum. Indonesia masih dalam kerangkeng yang membuatnya semakin lemah dan terpuruk.
Para pemimpin kita sekarang tidak mempunyai visi yang kuat untuk membebaskan kita dari keterpurukan, bahkan kita sering dijadikan sebagai alat untuk memperkaya dirinya sendiri. Mereka seharusnya sudah di pulangkan ke kampungnya masing-masing.
Kitalah, generasi yang tidak hanya mempunyai kecerdasan intelektuil, namun juga kecerdasan emosional dan spiritual yang harus mulai bergerak. Negara kita butuh orang-orang yang sadar akan nilai-nilai nasionalisme dan humanisme.
Sekarang, bukan saatnya lagi kita tersekat-sekat oleh agama, ormas, atau kotak-kotak lain yang menyempitkan gerak kita. Sekarang waktunya berhimpun, menyatukan visi untuk membangunkan Indonesia yang mati suri.
Penulis adalah pengasuh Rumah Baca Damar26

Mahasiswa Jinayah Siyasah Semester 4.

So’al Mbalelo Kader Golkar

Kekisruhan menjelang pemilu 2014 akhir-akhir ini sudah semakin terasa. Hampir setiap hari media memberitakan tentang segala urusan terkait dengan pemilu. Salah satu yang sedang ramai dibicarakan ialah so’al mbalelonya kader partai golkar.
Hal ini ternyata banyak menarik perhatian masyarakat, termasuk juga saya. Mereka ingin tahu, apa sebenarnya yang menjadi alasan utama kader-kader golkar sehingga meninggalkan partai yang sudah lama menaunginya tersebut.

Bermula dari keluarnya Rahmatulloh selaku ketua PK golkar kecamatan purwakarta, yang juga menjabat sebagai anggota DPRD. Hengkangnya Rahmat ini menimbulkan banyak spekulasi, baik itu dari kalangan pemerhati politik atau pun dari kalangan akademisi. Spekulasi terbesar ialah bahwasanya ada kekeroposan di tubuh golkar, khususnya diwilayah Cilegon, sehingga kader yang potensi konstituennya cukup besar seperti Rahmatulloh memilih keluar dan masuk dalam partai yang lain. Hal ini juga dikuatkan dengan keluarnya dua kader lainnya seperti Musthofa dan Sukmayada. Ini semakin memperkuat, bahwa dalam tubuh golkar ada semacam sembilu yang menyakiti para kadernya.

Dalam harian Banten Post edisi 13/05, wakil sekertaris DPD II partai Golkar M Nasir seolah menertawakan alasan Musthofa keluar dari partai, yakni karena tidak diberikan proyek. Namun, jika kita mau menelaah statement Nasir kepada Musthofa tersebut dalam kajian semiotika bahasa, ini merupakan suatu symbol. Artinya, Nasir mencoba menutup-nutupi apa yang sebetulnya terjadi dalam tubuh partai. Boleh jadi alasan Musthofa itu adalah gambaran umum kinerja partai yang sesunguhnya. Bahwasanya orang bergabung dengan partai politik, mindsetnya bukan lagi ingin berpartisipasi untuk perubahan bangsa agar lebih baik, tapi saling kejar mengejar proyek untuk kepentingannya pribadi. Baik itu proyek jasa, atau proyek untuk mendapatkan jabatan tertentu.

Kalau kita mau menengok sejarah, sebutlah pada era Soekarno dan kawan-kawan. Militansi kader terhadap partainya sangatlah tinggi. Mereka sangat menjunjung tinggi kesatuan dan kesolidan pergerakan partai. Sebab mereka satu jiwa dan satu misi yaitu untuk membuat Indonesia jauh lebih baik. Tidak terselip kepentingan untuk medapatkan tender atau untuk diangkat menjadi pemegang jabatan tertentu.  Kalau pun ada konflik, persis konflik itu hanyalah masalah perbedaan cara atau sudut pandang dalam memulai suatu pergerakan.

Namun, jika mindsetnya sudah seperti kader-kader golkar diatas, maka ketika kepentingan pribadinya sudah tidak lagi mampu di penuhi oleh partai, atau partai lebih memihak kepada kader yang lain, maka pilihan untuk ‘cabut’ dari partai bukanlah persoalan yang berat.

Jelaslah sudah, bahwa sembilu yang menyakiti kader golkar itu adalah tidak terpenuhinya sebuah kepentingan. Musthofa yang backgroundnya sebagai pengusaha tentu kepentingannya adalah proyek. Sebagaimana kebanyakan kader golkar lainnya juga memiliki background yang sama dengan Musthofa.
M Nasir bisa berkata demikian –seolah dirinya benar- karena mungkin saja kepentingan pribadinya dalam tubuh golkar masih terpenuhi. Saya tidak yakin jika apa yang menjadi kepentingan Nasir tidak lagi terpenuhi dia tidak akan mengambil tindakan seperti Musthofa atau yang lainnya.

Inilah realita perpolitikan di Indonesia. Partai politik yang seharusnya menjadi tempat peracikan formula untuk kebaikan Negara, kini telah berubah serupa badan usaha atau badan penyalur kepentingan.
Tidak ada kawan atau musuh sejati dalam politik, begitu kiranya ajaran Nicolo Macheavelli yang sesungguhnya telah melukai cita-cita politik Aristoteles, sang pelopor istilah politik. Tidak ada yang salah dalam politik, namun orang-orang yang menyalah-artikanlah yang salah. Tidak ada yang salah dengan partai Golkar, tapi oknum-oknum yang menyalahgunakanlah yang salah.

Penulis adalah pengurus balai belajar Rumah Baca Damar26 Cilegon, Purwakarta.

Bendahara Umum FLP Cilegon.

Senin, 24 Desember 2012

Indonesia Incorporated: Melihat Wajah Baru Imperealisme


“jika kita tidak berhati-hati, kita akan menjadi bangsa kuli atau kuli di antara bangsa-bangsa”  (Bung Karno)

Siapa yang tidak sepakat bahwasanya Indonesia merupakan negeri yang memiliki sumber daya alam yang melimpah ruah. Negeri jelmaan surga sehingga tongkat kayu dan batu menjadi tanaman.
Judul: Indonesia Incorporated
Penulis: Zaynur Ridwan
Penerbit: Salsabila
Tebal: 352 H
Wilayah Indonesia yang membentang dari sabang sampai merauke menyimpan potensi kekayaan yang luar biasa. Hutan, gunung, sawah, laut adalah aset tiada tanding yang seharusnya mampu membuat rakyatnya makmur sejahtera.

Namun, fenomena kekayaan alam Indonesia itu tidak sebanding dengan kenyataan kehidupan rakyatnya sendiri. Negara kita termasuk salah satu Negara termiskin, tertinggal jauh dengan Singapura yang hanya sekuku hitam jika dibandingkan dengan luas territorial Indonesia.

Mengapa ini semua bisa terjadi? Dalam novel Indonesia Incorporated karangan Zaynur Ridwan inilah, jawabannya bisa kita dapatkan dengan gamblang tanpa tedeng aling-aling.
Novel ini menyingkap tabir korporasi asing di Indonesia yang sejatinya menjadi sebab atas terpuruknya ekonomi bangsa Indonesia.  Korporasi asing tersebut adalah wajah baru imperealisme. Setelah Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya pada tahun 1945, bangsa asing tidak henti-hentinya bersiasat untuk kembali menyusup dan menguasai segala sector. kini, dengan cara yang sangat rapih dan halus, berkedok globalisasi, mereka berhasil kembali masuk dan menjajah Indonesia, bahkan kali ini jauh lebih mengerikan dari sebelumnya.

Papua adalah daerah penghasil emas terbaik, berton-ton emas dihasilkan dari tanah hitam tersebut. Namun sayang, rakyat papua hanya mendapatkan 1% dari hasil buminya tersebut, 9,36% masuk ke pemerintah dan sisahnya “dirampog” semua oleh Amerika. Serta masih banyak lagi daerah-daerah berpotensi di Indonesia yang rata-rata sudah dikuasai oleh negeri asing, bahkan mungkin sampai kepada daerah kita sendiri, Cilegon.


Ini semua terjadi karena kepongahan para pejabat Indonesia, terutama pada masa orde baru --hingga sekarang-- yang terlalu mudah terbuai oleh intrik-intrik yang di paparkan oleh para asing. Padahal jauh-jauh hari Bung Karno sudah mengingatkan, bahwasanya kita harus berhati-hati jika kita tidak mau menjadi bangsa kuli atau kuli diantara bangsa-bangsa.

Bisa kita lihat fenomena saat ini, rakyat yang berasal dari negeri surga ini dijadikan budak dinegeri orang. Ribuan TKI nasibnya terkatung-katung entah bagaimana Bahkan di negerinya sendiri pun mereka menjadi budak. Kita bisa lihat di toko-toko besar, atau perusahaan-perusahaan besar yang ada diindonesia, para tengkulak asing duduk manis dikursi empuk, sedangkan warga pribumi hanya menjadi kuli panggul atau paaling banter hanya menjadi mandor.

Novel Indonesia Incorporated ini sangat menarik, terutama bagi orang-orang yang peduli akan nasib bangsanya. Meskipun fiksi, namun saya rasa ini adalah realitas yang terjadi dan yang selama ini di tutup-tutupi. Indonesia sedang dalam cengkraman.

Jumat, 21 Desember 2012

“Madrasahis” Pramuka MTs Al-khairiyah Karangtengah


Jika seseorang mencintai negaranya, kemudian berjuang mengerahkan seluruh tenaga untuk membuat bangsanya jauh lebih maju, maka biasanya orang tersebut diberi julukan ‘berjiwa nasionalis’. Namun bagaimana kemudian jika seorang siswa berjihad mati-matian untuk kemajuan sekolahnya, atau dengan kata lain untuk mengharumkan nama sekolahnya, kira-kira di beri julukan apakah siswa ini? Saya bingung mencari istilah yang tepat untuknya, maka karena siswa yang saya maksud itu bersekolah di madrasah, saya sebut saja ia ‘madrasahis’

Asti dan Kawan-kawan saat melewati lintasan pertama
Hari ini adalah hari pertama anggota Gerakan Pramuka pangkalan MTs Al-khairiyah karangtengah mengikuti perkemahan akhir tahun yang diselenggarakan oleh kwartir ranting Purwakarta. Sebelumnya, berhari-hari mereka mengikuti latihan disekolah secara berat dan ketat. Saya pribadi yang menjadi Pembina pramuka merasa sangat  kagum dengan mereka, meskipun mereka terkadang suka mengeluh dengan system latihan yang saya berikan, namun keesokan harinya mereka kembali latihan dengan penuh semangat.

Pada hari pertama ini, mereka sudah mengikuti beberpa mata lomba yang diberikan panitia. Alhamdulillah, dari sekian mata lomba tersebut, mereka berhasil menjuarainya. Namun, yang paling mengesankan bagi saya ialah ketika perlombaan bakiak. Adalah regu putri, yang di gawangi oleh Asti, Ana, Atul dan I’im. Dari awal pun sebenarnya saya sudah yakin mereka akan mendapatkan juara, barangkali ketiga atau kedua. Sebab saya melihat dari cara mereka latihan, mereka sangat lincah sekali menggunakan bakiak.

Dalam perlombaan bakiak ini peserta hanya diwajibkan melakukan satu kali putaran, dan tidak ada final setelah itu. Langsung diambil juara satu,dua dan tiga. Asti dan kawan-kawan pun sudah siap dengan bakiaknya, dan ketika peluit ditiup, dengan cepat Asti meluncur di atas bakiak. Hebat, pada lintasan pertama Asti memimpin. Lawannya tertinggal jauh. Namun, ketika berbelok untuk lintasan kedua, Asti terjatuh dari bakiaknya. Ia dan kawan-kawannya tersungkur keras. Saya memperhatian mereka dari garis finis, mereka sangat susah untuk kembali berjalan.  Wal hasil, lawannya pun dapat menyusulnya. Asti terlihat begitu cemas, wajahnya puct pasi. Mencoba untuk tenang, Asti dan kawan-kawan pun kembali berjalan. Namun, Ah.. ia tertinggal jauh. Tiba-tiba saja ia berlari cepat sekali, bahkan sangat cepat beserta bakiaknya. Satu persatu lawannya kembali tersusul, Asti terus berlari, kini ia hampir menyusul lawannya yang paling depan. Dan “priiit…” peluit panitia menetapkan Asti dan kawan-kawan menjadi juara dua. Akan tetapi, apa yang terjadi dengan Asti, tubuhnya lunglai dan tiba-tiba saja ia terjatuh pingsan. Sesegera mungkin Rohani membopongnya ke Tenda. Saya segera menyusul, ternyata bukan Cuma Asti yag pingsan, Atul juga ikut tidak sadarkan diri.

Saya dan Pembina yang lain mencoba menahani mereka dengan obat-obatan seadanya. Tidak lama kemudian Asti sadar, di susul dengan Atul. Lutut asti lecet akibat tersungkur, saya memperban lukanya itu.
Saat saya memperban Luka Asti, saya merasa sangat terharu. Ia dan kawan-kawannya mengorbankan segalanya untuk membawa harum nama Madrasah. Tak jauh beda dengan Soekarno, Agus salim, dan lain sebagainya yang mengharumkan nama bangsa kemudian di sebut Nasionalis. Mereka yang berjuang berdarah-darah demi Madrasah itu, kemudian saya sebut Madrasahis.

Wallahu’alam.

21 Desember 2012. (23:55)

Rabu, 19 Desember 2012

Susahnya Menjadi “Pahlawan”



“…Semboyan kita tetap, “Merdeka atau mati.” Dan kita yakin saudara-saudara, pada akhirnya pastilah kemenangan akan jatuh kepada kita. Sebab Allah akan berpihak kepada jalan yang benar. Percayalah saudara-saudara, Tuhan akan melindungi kita sekalian.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Merdeka!” (Pidato Bung Tomo)

Cuplikan pidato Bung Tomo diatas, mengisaratkan keberanian dan rasa optimisme tinggi untuk berperang melawan tentara sekutu dan NICA yang kembali mendaratkan kakinya untuk menjajah Indonesia pada tanggal 29 September 1945 selepas Proklamasi kemerdekaan dibacakan. Mendengar pidato Bung Tomo tersebut, rakyat Indonesia semakin bergelora jiwanya untuk membasmi segala bentuk penjajahan di Bumi Pertiwi.

Resolusi Jihad Nahdatul Ulama

Sebelum Bung Tomo menyuarakan Pidatonya, sesungguhnya Rakyat Indonesia –yang mayoritas beragama islam-- Hatinya sudah terpanggil untuk berperang melawan Sekutu dan NICA, atas dasar Resolusi Jihad Nahdatul Ulama. Ketika Sekutu dan NICA datang ke berbagai daerah di Indonesia untuk kembali menjajah, pemerintah Republik Indonesia tidak melakukan tindakan atau perlawanan yang nyata. Maka, perhimpunan Nahdatul Ulama seluruh Jawa dan Madura mengadakan rapat besar pada tanggal 21-22 Oktober 1945 untuk mengajukan Resolusi Jihad kepada Pemerintah Indonesia. Mereka menyatakan bahwa setiap bentuk penjajahan adalah suatu kezaliman yang melanggar prikemanusiaan dan nyata-nyata diharamkan oleh agama Islam.

Setelah adanya Resolusi Jihad dari Nahdatul Ulama itu, sekitar 60 juta rakyat Indonesia siap berjihad membela agama dan bangsa Indonesia.
Ditambah dengan pidato-pidato heroik dari Bung Tomo, apalagi setiap akhir pidatonya, Bung Tomo selalu mengucapkan takbir. Jelas semakin membuat mujahid-mujahid muslim semakin bergelora.

Kemenangan Indonesia

Kegigihan rakyat Indonesia yang mempertahankan kemerdekaan, menimbulkan pecahnya pertempuran antara tentara sekutu dan NICA dengan rakyat Indonesia pada tanggal 10 November 1945 --oleh karena itulah hari pahlawan di peringati pada tanggal tersebut. Tentara sekutu dan NICA yang notabene pemenang dari Perang Dunia II (1939-1945) serta Perang Asia Timur Raya (1941-1945) yang tentunya mempunyai persenjataan yang amat lengkap, tidak membuat rakyat Indonesia gentar meski hanya mempunyai beberapa pucuk senjata hasil rampasan dari jepang, selebihnya menggunakan bambu runcing.

Amat membanggakan sekali, semangat mempertahankan tanah air yang didorong oleh sepirit religiusitas (Syahid) membuat bangsa Indonesia memenangkan peperangan terebut. Prestasi yang luar biasa, jika pada saat perang Dunia II sekutu dan NICA tidak pernah kehilangan panglima besarnya, maka pada saat melawan tentara Indonesia, sekutu dan NICA kehilangan jendral besar mereka yang bernama Brigadir Jendral Mallaby. Mereka (tentara sekutu dan NICA) pun akhirnya lari tunggang langgang meninggalkan Negeri Indonesia.

Ini patutnya kita jadikan pelajaran berharga, khususnya untuk generasi muda penerus bangsa. Dulu, bangsa kita tidak bisa dianggap remeh. Tidak bisa disembarangkan oleh bangsa lain. Negara kita punya karisma yang lebih. Namun, apakah karisma itu masih bertahan sampai sekarang? Saya yakin pembaca mempunyai penilaian masing-masing.

Susahnya Jadi Pahlawan

Kini, secara dhohir Negara kita memang telah merdeka, Tidak ada lagi imperealisme yang terjadi di bangsa ini, semua orang yang dianggap mempunyai peran besar dalam proses kemerdekaan diberi gelar pahlawan. Lantas masih bisakah kita menjadi pahlawan?

Sejatinya, pahalawan adalah orang yang berani dan mau mengorbankan dirinya demi menegakkan kebenaran. Orang-orang yang memiliki sikap patriotisme dan berjiwa kesatria. Maka dari itu, di tengah keadaan bangsa yang carut-marut ini, di tengah bangsa yang sedang terpuruk karena korupsi, di tengah bangsa yang selalu terjadi ketimpangan sosial ini, sesungguhnya kita juga bisa menjadi pahlawan. Dengan melakukan hal apapun yang bisa kita lakukan demi bangkitnya kembali Indonesia. Contoh kecilnya seperti yang dilakukan oleh Dahlan Iskan, iya mendobrak dan membongkar kepongahan anggota DPR yang menjadi “Calo” atas perusahaan-perusahaan BUMN. Hal yang semacam ini patut kita acungi jempol dan patut juga diberi gelar pahlawan. Dahlan dengan gagah berani membuka hal kotor yang selama ini disembunyikan.

Namun sayang, untuk melakukan hal tersebut tidaklah mudah. Mungkin sama sulitnya dengan perjuangan pahlawan jaman dulu. Butuh tekad dan keteguhan hati yang mantap. Oleh karena itu, kita sepatutnya kembali kepada kebebasan kita selaku manusia. Tidak seharusnya kita takut kepada sesuatu yang salah, kebenaran memanglah harus ditegakkan.

Pada akhirnya, penulis ingin mengajak, marilah bersama-sama menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Membenarkan yang benar, mensalahkan yang salah. Membantu yang berhak dibantu, menolong yang sepatutnya harus ditolong. Jadilah pahlawan minimal di lingkungan kita masing-masing. Merdeka!

Bima S. Penulis adalah pendiri komunitas baca Damar26
Pecinta segala jenis buku

Kamis, 13 Desember 2012

Demokrasi & Literasi


Suatu ketika ada seorang sahabat datang kepada saya, ia menanyakan pendapat saya tentang demokrasi. Sebisanya saya mengungkapkan apa yang saya tahu tentang demokrasi. Namun, dengan gencar ia menepis pendapat-pendapat saya. Akhirnya saya memutuskan untuk diam dan mendengarkan apa yang sahabat saya itu ucapkan.

Dia menganggap bahwa demokrasilah yang menyengsarakan kehidupan rakyat Indonesia, demokrasi itu hanya menguntungkan sebagian orang saja, demokrasi itu sekuler dan kafir, demokrasi hanya membuat para kapitalis semakin menjamur dan lain sebagainya. Saya mendengarkan dengan seksama apa yang sedang ia bicarakan. Kemudian ia menawarkan konsep suatu negara terhadap saya, dia bilang Indonesia sudah saatnya menerapkan hukum islam, layaknya nabi Muhammad ketika di madinah. Intinya dia mengajak saya bergabung bersamanya untuk turut memperjuangkan Negara islam di indonesia. Saya hanya tersenyum mendengar ajakannya itu, saya memberi penjelasan kepadanya bahwa saya belum bisa, mungkin lain waktu saja.
Sedikitnya saya pernah membaca tentang konsep Negara islam, dan sejujurnya, bukan saya tidak suka dengan system itu, tentunya sebagai orang islam saya sangat bangga manakala hukum-hukum islam bisa diterima dengan baik oleh masyarakat Indonesia. namun saya kira  dengan kondisi masyarakat Indonesia sekarang ini, agaknya kurang tepat. Bukan kedamaian yang kita dapatkan, bahkkan mungkin peperangan yang akan terjadi pada rakyat Indonesia.
Yang menjadi pikiran saya adalah, benarkah demokrasi yang menyebabkan carut-marutnya bangsa ini? Agaknya sahabat saya itu berbeda pandangan dengan saya dalam memahami demokrasi.

MENGENAI DEMOKRASI

Umum mengartikan demokrasi adalah pemerintahan oleh rakyat (Demos-Kratien), artinya rakyat diberikan sedemikian hak untuk ikut andil dalam menjalankan roda pemerintahan. Tentu saja tidak semua rakyat, demos disitu kemudian diartikan dengan perwakilan. Rakyat memilih wakilanya sebagai penyambung lidah atas kesejahteraan mereka sendiri.

Masalahnya kemudian, rakyat yang seperti apa yang berhak menjadi wakil atas rakyat yang lainnya. Apakah dengan paham demokrasi itu kemudian menghalalkan semua golongan rakyat untuk menjadi wakil, entah itu dari golongan pengusaha, kiyai, akademisi, atau pun dari golongan buruh. Tidak peduli akan basicnya sebagai pemimpin atau bukan, tidak peduli dia punya kemampun atau tidak, tidak peduli dia seorang koruptor atau bukan, yang pasti jika rakyat telah menghendaki, dia akan menjadi seorang wakil rakyat. Saya kira, cara pandang terhadap demokrasi yang seperti inilah yang membuat bangsa ini menjadi ambruk.
Sayangnya, cara pandang yang demikian itu menerap pada rakyat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak peka terhadap calon pemimpinnya. Bukanlah kemampuan yang dilihat, akan tetapi uang dan popularitas. Banyak rakyat yang kemudian memilih para wakilnya atas dasar uang yang diberikan saat kompanye, yang jelas-jelas itu mencederai nilai-nilai demokrasi. Atau pun karena popularitas calon pemimpin tersebut, semisal seorang artis atau aktor. Maka dengan mudah rakyat terbuai oleh kata-kata manisnya.
Seungguhnya, jika cara pandang masyarakat Indonesia masih demikian, maka saya anggap Indonesia belum mampu atau gagal dalam menerpkan system demokrasi. 

Pentingnya Literasi Dalam Berdemokrasi

Paling tidak, ada satu hal yang harus dipenuhi jika demokrasi ingin berjalan dngan baik, satu hal tersebut ialah “kecerdasan rakyat”, baik itu rakyat yang mencalonkan diri sebagai wakil rakyat, atau pun rakyat yang hendak memilih wakil rakyat.
Sebagai wakil rakyat, tentunya ia harus cerdas. Baik itu cerdas secara intelektualnya sebagai pemimpin, emosionalnya, terlebih lagi spiritualnya. Ketika hal ini sudah terpenuhi, maka suatu kepemimpinan akan menjadi seimbang. Kecerdasan yang ia miliki akan memenjaranya untuk melakukan tindakan-tindakan yang menyimpang.

Selanjutnya, sebagai rakyat yang diwakili seyogyanya rakyat juga harus cerdas dalam memilih wakilnya. Tidak terpengaruh akan popularitas ataupun dengan uang (money politik), masyarakat harus keritis dan peka, karena jika sedikit saja kita salah dalam memilih, maka imbasnya akan sangat besar. Untuk menggapai kecerdasan itu tak ada lain tentunya kita harus membaca, baik itu membaca secara tekstual atau pun kontekstual. Karena dengan membaca paling tidak kepala kita sudah  mempunyai gambaran tentang apa dan bagaimana sosok pemimpin kita nanti.

 Disinilah pentingnya budaya literasi dalam berdemokrasi. Dalam budaya literasi kita diajarkan untuk menyikapi suatu hal dengan keritis dengan metode membacanya, setelah itu kita di tuntut untuk menuangkan opini kita dalam bentuk tulisan, kemudian mendiskusikanya. Begitu pun saat kita memilih seorang pemimpin, kita tidak bisa melihat seorang pemimpin hanya deri casingnya saja. Kita harus membacanya secara detail, agar kita tidak salah memilih pemimpin yang pongah.

Oleh karenanya, jika kita ingin mendapati demokrasi bisa bangkit, yang implikasinya juga kepada kebangkitan suatu bangsa. Maka kita –pemerinth khususnya-- harus mendukung gerakan-gerakan literasi. Sebab dengan langkah inilah demokrasi dinegara kita tidak hanya baik secara birokrasi, namun juga baik secara substansial.
Wallahu’alam
Penulis adalah pengurus rumah baca Damar26 cilegon.
Mahasiswa semester III IAIN Serang
Alumnus Madarash Al-khairiyah karangtengah

Jumat, 07 Desember 2012

Wasiat Dari Meriam Ki Amuk


Adakah diantara pembaca yang tidak tahu dengan Meriam Ki Amuk? Jangan mengaku orang Banten jika belum tahu atau mengenal benda bersejarah ini.
Meriam Ki  Amuk atau ada juga yang memanggilnya Ki Jimat, merupakan salah satu benda (senjata) peninggalan kesultanan Banten yang masih utuh. Mengenai asal mula meriam ini, banyak sekali pendapat dari ahli sejarah, ada yang mengatakan Meriam Ki Amuk merupakan hadiah dari Sultan Trenggono dari Demak kepada Sunan Gunung Jati. Ada juga yang mengatakan  bahwa Meriam Ki Amuk merupakan hasil rampasan perang dari belanda, ada juga yang mengatakan hadiah dari belanda. Tapi yang jelas, meriam ini sangat membantu kesultanan Banten dalam berperang melawan penjajah. Jarak tembaknya yang jauh dan suaranya yang menggelegar, menjadikan Meriam Ki Amuk sebagai senjata pamungkas, senjata andalan, senjata paling ditakuti yang  membuat para musuh lari tunggang langgang. Oleh sebab itulah meriam ini di sebut dengan Meriam Ki Amuk. Ia selalu meng-amuk ditengah-tengah pasukan musuh.
Sedemikan hebatnya Meriam Ki Amuk, sehingga dulu banyak warga yang mengansumsikan bahwa Meriam Ki Amuk mempunyai kekuatan gaib. Sayangnya, anggapan yang demikian itu masih bertahan sampai sekarang diabad modern ini. sebelumnya Meriam Ki Amuk diletakan di pelabuhan karangantu, akan tetapi karena warga setempat beranggapan seperti diatas, kemudian menjalankan ritus-ritus seperti melempar koin, atau memeluk moncongya yang konon kalau pergelangan tanganya bisa bertemu maka orang tersebut akan kaya, seterusnya meriam itu di pindah ke Banten Lama, tepatnya di depan museum. Meski sudah dipindahkan, nyatanya masih banyak orang yang melakukan tindakan-tindakan yang berpotensi syirik itu.
Tiga Inskripsi
Ini sangat disayangkan, tindakan yang demikian itu tidak semestinya dilakukan oleh masyarakat Banten, atau oleh pengunjung dari luar banten. karena hal yang demikan itu sangat berpotensi syirik, atau menyekutukan kekuasaan Tuhan. Sedangkan syirik merupakan dosa yang sangat besar dan dilaknat oleh Tuhan.
Padahal kalau kita cermati, ada suatu hal yang menarik yang bisa kita jadikan pelajaran dari Meriam Ki Amuk tersebut. Adalah inskripsi atau semacam prasasti berbahasa arab yang tertoreh pada meriam ki amuk. Ada tiga inskripsi, dua inskripsi memuat tulisan yang sama yaitu Akibatulkhoir salamatn Iman yang artinya “Kesuksesan puncak adalah keselamatan iman.” Dan yang satu ialah La Fataa ila ‘ali, La sifaa ila zulfikar, Ashbir ala taqwa dahran… yang artinya kurang lebih, “Tiada jawara kecuali ‘ali, tiada golok kecuali zulfikar, bersabarlah dalam taqwa sepanjang masa..”
Kini tidak ada lagi peperangan secara fisik, yang ada hanya peperangan melawan pemikiran dan atau melawan perkembangan jaman yang sejatinya tidak kalah bahayanya. meriam Ki Amuk sudah tidak mengamuk lagi, namun untuk melawan peperangan secara batin tersebut Ki Amuk masih ikut andil berjuang
Pada inskripsi pertama, “kesuksesan puncak adalah keselamatan iman.” Iman secara harfiah biasa diartikan sebagai “percaya”, Sedangkan secara istilah, jumhur mengatakan iman adalah membenarkan dengan hati, mengucapkan dengan lisan, dan mengamalkan dengan anggota badan. Namun pengertian iman diatas  sangat global, masih membutuhkan penjelasan dan penafsiran. Kalau kita mengartikan iman cukup dengan percaya  saja, maka sesunguhnya setan pun percaya akan adanya Tuhan, Setan juga Membenarkan adanya Tuhan.  Cak Nur mengatakan bahwa iman lebih dari sekedar kita mempercayai akan keesaan tuhan, iman berasal dari kata Aman, yang berarti kesejahteraan atau kesentosaan, seseorang yang sudah mendapatkan imannya, maka dia akan menjadi manusia ‘bebas’, selain Tuhan, semua menjadi kecil dihadapanya. Maka kalau sudah begitu, dia akan menolak segala jenis perbudakan –karena ia hanya mau menjadi budak Allah saja—baik itu perbudakan secara akidah, ataupun perbudakan secara ekonomi. Jika Iman kita sudah sampai ditahap itu, maka ini akan membentuk manusia-manusia yang berdaulat, manusiamanusia yang Berdikari. Tidak lagi mau ditekan oleh siapapun, termasuk kaum kapitlis. Maka tepat sekali wasiat dari Meriam Ki Amuk, “kesuksesan puncak adalah keselamatan iman.”
Wasiat Meriam Ki Amuk yang kedua adalah, “Tiada jawara kecuali ‘ali, tiada golok kecuali zulfikar, bersabarlah dalam taqwa sepanjang masa..”
‘Ali ibn Abi Thalib adalah tokoh dalam islam yang sangat mengagumkan, saya pribadi sangat mengagumi ‘Ali (jika mengagumi ‘Ali termasuk dalam golongan Syiah, maka biarkanlah saya menjadi syiah). Beliau seorang khalifah yang kemilitannya terhadap agama dan Negara tidak bisa diragukan lagi. dialah sejatinya sosok jawara yang patut dijadikan contoh oleh jawara-jawara yang ada di Banten. sedangkan pedang Zulfikar, adalah pedang yang senantiasa digunakan Ali dalam berjihad membela agma Allah, dinamai Zulfikar sebab pedang ini seperti punya pemikiran, dia tahu musuh mana yang harus ditebas dan yang tidak, pernah dalam suatu perang, ketika itu musuh sudah bertekuk lutut dihadapan Ali, hanya sekali tebas musuh itu pasti akan tewas, namun sebelum Ali menebas musuh itu dengan pedang, si musuh tersebut meludahi Ali. Setelah itu Ali menarik pedangnya, dia tidak jadi membunuh si musuh. Si musuh bertanyatanya, mengapa Ali tidak membunuhnya. Rupanya Ali sangat khawatir, karena si musuh telah meludahinya, ia takut kalau niatanya membunuh untuk membela agama, berubah menjadi karena rasa benci kepada si musuh. Taqwa merupakan salah satu simpul sebuah agama. Jumhur ulama megartikan taqwa dengan “menjalankan segala perintahNya, dan menjauhi segala laranganNya.” Sesungguhnya makna yang demikian itu masihlah sangat global, sepertinya kita harus menjabarkan apa yang sesungguhnya makna dari perintah itu.
            Cenderung kita memaknai perintah hanyalah sebatas syariah saja. Seperti sholat, zakat, puasa, dan lain sebagainya. Namun, perintah tuhan tidaklah sebatas itu. Hukum-hukum alam dan hukum-hukum masyarakat (sunatulloh) juga merupakan bagian dari perintah Allah. Meskipun demikian, keduanya mempunyai sisi nilai yang berbeda.
Jika ibadah-ibadah syariah, maka Allah akan memberikan balasnya diakhirat kelak. Meskipun terkadang didunia pun ada, akan tetapi itu hanya semisal uang muka saja.
Berbeda dengan hukumhukum alam (suantulloh), yang segala balasanya akan langsung diganjar oleh Allah di dalam dunia. Manusia dituntut untuk berusaha semaksimal mungkin demi kemaslahatanya hidup didunia. Sayangnya, terkadang kita tidak memahami bentuk perintah Allah yang seperti ini, cenderung kita Bersu’udzhon kepad Allah dengan kondisi muslim yang saat ini terpuruk secara ekonomi, padahal ternyata kitalah yang salah, kita hanya menjalankan taqwa sebagian saja. Sementara sebagian lain, banyak diamalkan oleh orang-orang non muslim.
Maka benar apa yang “diucapkan” Ki Amuk, bersabarlah dalam taqwa. Sebab taqwa seperti sepasang sayap, yang membawa manusia menggapai kebahagiaan duniawi dan ukhrowi.